JUNNAH.ID – Pemikiran Barat yang menguasai ruang intelektual kerap menjauhkan umat Islam dari pemahaman politik yang utuh. Akibat invasi pemikiran tersebut, persepsi masyarakat terhadap Islam cenderung menyempit. Agama sering kali hanya dipandang sebatas ritual, aspek spiritual, dimensi sufistik, atau pembenahan akhlak semata.
Ketika Islam dibicarakan dalam konteks politik, tidak sedikit umat yang merasa asing, heran, atau bahkan menolaknya. Fenomena ini memicu stagnasi berpikir, sehingga dunia Islam kehilangan daya inovasi di bidang politik dan sistem bernegara.
Momen-momen besar seperti peringatan Maulid Nabi pun kerap dimaknai sebatas teladan moral dan spiritual, tanpa menyentuh dimensi kepemimpinan dan pengelolaan masyarakat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemisahan Islam dari urusan publik dan politik bukanlah hal alami, melainkan dampak dari dominasi pemikiran non-Islam yang menumpulkan cara pandang umat.
Menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, kunci untuk mengurai persoalan ini adalah mengembalikan arah dakwah. Dakwah tidak boleh hanya berfokus pada parsialitas—seperti sekadar sains, ekonomi, atau moral—melainkan harus menjadi dakwah kepada Islam yang utuh.
Islam perlu dipahami dan diperjuangkan sebagai sebuah sistem hidup yang menyeluruh, mencakup seluruh aspek kehidupan termasuk politik dan tata kelola masyarakat. (AI)
Sumber: Kyai Yasin Muthohar (akun tiktok @moeslemvideoclip)
Editor: Yusva Alam
