JUNNAH.ID – Dunia maya dihebohkan oleh cuplikan video live stream yang memperlihatkan pakar geopolitik, Prof. Jiang Xueqin, mengucapkan kalimat syahadat dengan dipandu oleh kreator konten Sneako.
Dalam video berdurasi pendek yang viral di berbagai platform, Jiang menuntun ucapan “Ashhadu an la ilaha illallah wa ashhadu anna Muhammadan rasulullah” serta mengafirmasi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Ia juga menyatakan percaya bahwa Yesus dan Muhammad adalah sesama utusan Tuhan.
Sontak, momen tersebut memicu beragam reaksi. Banyak warganet menyambutnya gembira dengan ucapan “Alhamdulillah” dan “Masya Allah”. Namun, tak sedikit pula yang bersikap skeptis dan mempertanyakan keabsahan konversi agama tersebut. Apakah Jiang benar-benar memahami implikasi syahadat secara meyakinkan, atau momen itu sekadar bagian dari dinamika siaran langsung?
Profil kedua sosok ini memang kerap menyita perhatian publik:
• Jiang Xueqin: Pendidik dan komentator geopolitik kelahiran Tiongkok (1976) yang tumbuh di Kanada. Lulusan Yale University ini dikenal luas melalui kanal YouTube Predictive History. Meski disapa “Profesor”, ia bukan akademisi perguruan tinggi konvensional. Jiang dikenal mengagumi Islam sebagai “revolusi intelektual”, tetapi sebelumnya ia tidak pernah mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang muslim.
• Sneako: Streamer kontroversial yang telah memeluk Islam beberapa tahun lalu. Ia aktif membahas tema agama, filsafat, dan geopolitik. Sebelum peristiwa ini, Sneako beberapa kali memandu tamu siarannya untuk mengucapkan syahadat secara live.
Sneako membela momen tersebut dalam video reaksinya dengan menegaskan bahwa Jiang memahami penuh makna kalimat yang diucapkannya. Meski demikian, keraguan publik tetap beralasan. Hingga saat ini, belum ada pernyataan tertulis resmi dari Jiang di kanal utamanya terkait perubahan status keagamaannya.
Mengucapkan syahadat dalam siaran langsung adalah satu hal, tetapi menjadikannya keyakinan hidup yang formal di luar kamera adalah hal lain. Tanpa klarifikasi resmi dari Jiang sendiri, kebenaran tentang status mualaf sang profesor masih menjadi tanda tanya besar.
Editor: Yusva Alam
