JUNNAH.ID – Diskusi bedah buletin Kaffah yang diadakan oleh Forum Literasi Muslim Muda di Masjid Al-Amin Loktuan, Kota Bontang, Sabtu (12/9/2026) malam, menyoroti fenomena personifikasi agama dalam politik praktis.
Pemateri kegiatan, Ustadz Ali Abu Naushah, secara tegas mengkritisi peluncuran buku bertajuk Islam ala Prabowo. Menurutnya, konsep ber-Islam tidak boleh dikotakkan berdasarkan figur penguasa.

Ustadz Ali mempertanyakan urgensi memunculkan versi Islam berbasis nama pejabat. Ia menilai, diskusi publik seharusnya tidak terjebak pada narasi pendukung atau pencitraan politik.
“Pertanyaan seperti ‘apa Islam ala Prabowo’ itu tidak penting dan tidak berbobot. Yang harus ditanyakan adalah seperti apa kebijakan beliau menurut Islam, dengan hukum apa beliau memimpin, serta standar apa yang digunakan dalam menentukan kebijakan negara,” ujar Ustadz Ali.

Ia juga melayangkan kritik terhadap peran sebagian cendekiawan dan ulama yang terlibat dalam penyusunan maupun peluncuran buku tersebut. Menurut Ustadz Ali, fungsi utama ulama adalah mengoreksi dan memastikan kekuasaan berjalan sesuai syariat, bukan menjadi alat legitimasi politik.
“Tugas ulama bukan menjadi tukang poles citra penguasa atau sekadar membuat penguasa terlihat Islami. Tugas ulama ialah mengoreksi kekuasaan agar tunduk kepada Islam,” tegasnya.
Menutup pemaparannya, Ustadz Ali mengingatkan bahwa perintah Allah SWT adalah menjalankan Islam secara menyeluruh (kaffah), sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Poin utamanya bukan pada simbol-simbol yang melekat pada tokoh politik, melainkan pada penerapannya sebagai sistem nilai dan hukum.
“Islam boleh jadi simbol, tapi jangan sampai hanya menjadi dekorasi. Islam harus menjadi standar,” pungkas Ustadz Ali.
Editor: Yusva Alam
