BerandaPOVLampaui Standar WHO: Bagaimana Islam Lebih Dulu Menjamin Kehormatan Perempuan

Lampaui Standar WHO: Bagaimana Islam Lebih Dulu Menjamin Kehormatan Perempuan

Oleh:
Rahmi Surainah, M.Pd.
Alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin

JUNNAH.ID – Kota Samarinda berhasil meraih pengakuan internasional dari World Health Organization (WHO) atas upaya pencegahan kekerasan dan dorongan terhadap kesetaraan gender. Penghargaan tersebut diterima dalam pertemuan kota-kota dunia di Sydney, Australia, pada Selasa (1/9/2026). Samarinda dinilai berhasil melakukan perubahan sistem, norma, dan ruang perkotaan, serta menerapkan pendekatan multisektoral untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi kelompok rentan (https://radarbontang.com/samarinda-raih-penghargaan-who-kesetaraan-gender-dan-perlindungan-anak-jadi-perhatian/).

Pencapaian ini menegaskan bahwa Samarinda telah menjalankan indikator target Sustainable Development Goals (SDGs). Namun, predikat “Kota Sehat” ini patut dicermati kembali secara kritis. Berdasarkan data kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Samarinda periode Januari–Juni 2026, tercatat ada 149 kasus kekerasan yang menimpa 150 korban. Rinciannya mencakup 56 kasus kekerasan terhadap perempuan (56 korban) dan 93 kasus kekerasan terhadap anak (94 korban). Realitas ini menunjukkan kontradiksi antara penghargaan di atas kertas dan kondisi di lapangan.

Narasi kesetaraan gender sejatinya lahir dari ideologi kapitalisme dan feminisme. Kapitalisme mendorong perempuan turun ke dunia kerja demi menopang roda ekonomi, menyumbang devisa melalui tenaga kerja, dan mengisi sektor industri murah. Akibatnya, standar kemuliaan perempuan bergeser dari ranah domestik ke ranah publik semata.

Ketika perempuan dituntut berpacu mengejar karier, peran strategis mereka sebagai pembentuk generasi dan penopang keluarga justru terabaikan. Padahal, persoalan utama yang dihadapi perempuan saat ini—seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan kekerasan—merupakan dampak sistemis dari kapitalisme sekuler itu sendiri.

Sebaliknya, peradaban Islam telah lebih dulu memuliakan perempuan secara hakiki sesuai fitrahnya. Islam tidak membebankan kewajiban mencari nafkah kepada perempuan, melainkan menempatkan kewajiban tersebut pada suami atau walinya. Dalam pandangan Islam, perempuan dimuliakan melalui seperangkat aturan yang menjaga kehormatan mereka, seperti penutupan aurat, larangan tabarruj dan ikhtilat, serta penghormatan tinggi terhadap peran sebagai istri dan ibu.

Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam melahirkan tokoh-tokoh besar berkat kontribusi para perempuan hebat. Pertama, peran ibu luar biasa yang melahirkan ulama dan pemimpin dunia, seperti ibu dari Imam Syafi’i, Imam Bukhari, hingga Muhammad al-Fatih. Kedua, peran istri shalehah pendamping pemimpin, seperti Fatimah binti Abdul Malik dan Zubaydah binti Abu Ja’far al-Manshur. Ketiga, peran ulama dan penasihat intelektual, seperti Sayyidah Naafisah yang menjadi guru Imam Syafi’i, serta Fathimah binti Alauddin Muhammad.

Di balik riuk pengakuan internasional, Islam telah menyediakan sistem kehidupan yang paling tepat untuk melindungi dan memuliakan perempuan. Perempuan muslimah tidak sekadar membutuhkan pengakuan standar manusia atau lembaga dunia, melainkan keridaan dari Allah SWT. Melalui ketaatan dan penjagaan fitrah, perempuan akan melahirkan generasi tangguh yang mengharumkan peradaban, baik di bumi maupun di akhirat kelak.

Editor: Yusva Alam

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terpopuler

Terbaru