JUNNAH.ID – Sering kali kita mendengar ungkapan, “Saya hanya mau taat pada Islam asal sesuai akal saya.” Sekilas, pernyataan ini terdengar logis dan bijak. Namun, jika ditelaah lebih dalam, ada hal penting yang perlu diluruskan mengenai hubungan antara akal dan wahyu.
M Rahmat Kurnia melalui kanal Instagram pribadinya menjelaskan, Islam tidak pernah mengesampingkan akal. Sebaliknya, Islam menempatkan akal pada porsi yang sangat terhormat. Logika dan pemikiran manusia dibutuhkan untuk membuktikan kebenaran dasar, seperti keberadaan Pencipta alam semesta, kenabian Muhammad SAW, serta keaslian Al-Qur’an sebagai firman Allah.
Pada tahap ini, akal bekerja untuk menguji dan meyakini kebenaran tersebut.
Namun, setelah akal berhasil membuktikan bahwa wahyu itu benar-benar berasal dari Allah, maka peran akal bergeser. Akal tidak lagi bertugas menghukumi atau menguji setiap perintah wahyu, melainkan wahyulah yang bertugas mengarahkan akal dan pikiran manusia.
Sebagai gambaran sederhana, bayangkan sebuah kompas. Sebelum menggunakan kompas di tengah hutan, logika kita bekerja untuk memastikan apakah kompas tersebut berfungsi dengan baik dan akurat. Namun, setelah yakin bahwa kompas tersebut benar, kita tidak lagi mengarahkan kompas sesuai keinginan sendiri. Sebaliknya, kitalah yang tunduk dan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh kompas tersebut.
Begitu pula dengan hubungan antara akal dan wahyu. Akal bertugas mengantarkan kita sampai pada pintu keyakinan. Setelah meyakininya, wahyu dari Allah yang menjadi penunjuk jalan bagi seluruh pemikiran dan tindakan kita.
Editor: Yusva Alam
