JUNNAH.ID – Kontribusi umat Islam bagi dunia (rahmatan lil ‘alamin) di bidang energi telah terukir sejak era keemasan peradaban Islam. Ketika menghadapi krisis energi masa lalu, para ilmuwan Muslim tidak menyerah pada keterbatasan. Mereka berhasil memecahkan masalah melalui metode ilmiah dan inovasi yang memberikan manfaat luas bagi manusia.
Saat tenaga hewan tidak lagi mencukupi kebutuhan industri, ilmuwan dan inventor Muslim seperti Al-Jazari (1136–1206 M) memanfaatkan tenaga air untuk menggerakkan mesin-mesin industri. Di bidang kimia, tokoh seperti Jabir ibn Hayyan (721–815 M) dan Muhammad ibn Zakariya ar-Razi (854–925 M) berhasil memelopori metode ilmiah modern hingga menemukan cara mengolah minyak mentah menjadi minyak tanah (kerosene).
Semangat inovasi tersebut terus berlanjut hingga kini dalam menjawab krisis energi modern. Di tengah mahalnya harga LPG, keterikatan kontrak jangka panjang LNG, serta belum tersedianya listrik murah dari PLTN, biomassa hadir sebagai potensi bahan bakar alternatif yang melimpah.
Profesor Muhammad Nurhuda, guru besar fisika Universitas Brawijaya, menjawab tantangan pemanfaatan biomassa yang kerap terhalang masalah asap di perkotaan. Ia berhasil menciptakan kompor biomassa yang praktis, bersih, dan ramah lingkungan.
Inovasi ini tidak hanya meraih penghargaan nasional, tetapi juga diakui serta digunakan secara luas di berbagai negara Eropa dan Afrika.
Mengubah kesulitan menjadi peluang merupakan representasi nyata dari semangat para ilmuwan Muslim. Umat Islam diharapkan terus memberikan gagasan, inovasi, dan teknologi sebagai “bahan bakar” bagi kemajuan energi dunia.
Selain itu, pengelolaan serta pendistribusian energi tersebut harus dijalankan sesuai dengan syariat Islam, agar membawa keberkahan dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh umat manusia. (AI)
Sumber: Dr Fahmi Amhar di Tabloid Mediaumat Edisi 210
Editor: Yusva Alam
