BerandaKhazanahUlama dan Penguasa: Menjaga Kehormatan Ilmu di Atas Kekuasaan

Ulama dan Penguasa: Menjaga Kehormatan Ilmu di Atas Kekuasaan

JUNNAH.ID – Kyai Yasin Muthohar di kanal instagram beliau menyampaikan, bahwa umat saat ini sangat membutuhkan ulama yang tegas dan berani menolak ketidakadilan. Sosok ulama sejati tidak akan bersikap manis demi menyenangkan penguasa yang membawa rakyat menuju kezaliman.

Jika mereka harus menemui penguasa, satu-satunya alasan adalah untuk mengingatkan dan menyuarakan kebenaran (amar makruf nahi mungkar). Sebab, kehormatan ilmu membuat derajat ulama berada di atas kekuasaan.

Prinsip ini tecermin dalam sebuah pepatah:
“Para raja adalah penguasa bagi rakyat, sedangkan ulama adalah penguasa bagi para raja.”

Ketegangan antara ilmu dan kekuasaan tecermin dari kisah para pemikir besar Islam:

• Imam Malik Saat Khalifah Harun Ar-Rasyid berkunjung dari Baghdad ke Madinah dan memanggilnya untuk membacakan kitab Al-Muwatta’, Imam Malik menolak hadir. Ia menegaskan, “Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi; ilmu itu dikunjungi, bukan mengunjungi.”

• Imam Bukhari Ketika Gubernur Bukhara mengundangnya ke istana untuk membacakan kitab At-Tarikh, Imam Bukhari menolak. Ia menyampaikan bahwa jika gubernur membutuhkan ilmu, sang pejabatlah yang harus datang menemuinya di masjid.

Akibat sikap tegar dan penolakannya terhadap dekatan kekuasaan yang lalim, Imam Bukhari mendapatkan perlakuan buruk dari penguasa setempat. Meski lahir dan berjuang di Bukhara, beliau memilih menjauh hingga akhirnya menghabiskan sisa hidupnya dan dimakamkan di Samarkand.

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa integritas ilmu harus selalu dipertahankan di atas kepentingan politik. (AI)

Editor: Yusva Alam

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terpopuler

Terbaru